Selasa, 22 Juli 2014

Yusuf Bilyarta Mangunwijaya, Pr (Romo Mangun)

Yusuf Bilyarta Mangunwijaya, Pr. (lahir di Ambarawa, Kabupaten Semarang, 6 Mei 1929 – meninggal di Jakarta, 10 Februari 1999 pada umur 69 tahun), dikenal sebagai rohaniawan, budayawan, arsitek, penulis, aktivis dan pembela wong cilik. 

Anak sulung dari 12 bersaudara pasangan suami istri Yulianus Sumadi dan Serafin Kamdaniyah. 

Romo Mangun, julukan populernya, dikenal melalui novelnya yang berjudul Burung-Burung Manyar. 

Mendapatkan penghargaan sastra se-Asia Tenggara Ramon Magsaysay pada tahun 1996. 

Ia banyak melahirkan kumpulan novel seperti di antaranya: Ikan-ikan Hiu, Ido, Homa, Roro Mendut, Durga/Umayi, Burung-Burung Manyar dan esai-esainya tersebar di berbagai surat kabar di Indonesia. 

Bukunya Sastra dan Religiositas mendapat penghargaan buku non-fiksi terbaik tahun 1982.

Dalam bidang arsitektur, beliau juga kerap dijuluki sebagai bapak arsitektur modern Indonesia. 

Salah satu penghargaan yang pernah diterimanya adalah Aga Khan Award, yang merupakan penghargaan tertinggi karya arsitektural di dunia berkembang, untuk rancangan pemukiman di tepi Kali Code, Yogyakarta. 

Kekecewaan Romo terhadap sistem pendidikan di Indonesia menimbulkan gagasan-gagasan di benaknya. 

Dia lalu membangun Yayasan Dinamika Edukasi Dasar. 

Sebelumnya, Romo membangun gagasan SD yang eksploratif pada penduduk korban proyek pembangunan waduk Kedung Ombo, Jawa Tengah, serta penduduk miskin di pinggiran Kali Code, Yogyakarta.

Perjuangannya dalam membela kaum miskin, tertindas dan terpinggirkan oleh politik dan kepentingan para pejabat dengan "jeritan suara hati nurani" menjadikan dirinya beroposisi selama masa pemerintahan Presiden Soeharto.

Pada tahun 1936, Beliau masuk HIS Fransiscus Xaverius, Muntilan, Magelang dan lulus pada tahun 1943, kemudian meneruskan ke STM Jetis, Yogyakarta. 

Pada tahun yang sama ikut kingrohosi yang diadakan tentara Jepang di lapangan Balapan, Yogyakarta dan mulai tertarik mempelajari Sejarah Dunia dan Filsafat. 

Pada tahun 1944 STM Jetis dibubarkan, dan dijadikan markas perjuangan tentara RI, lalu ia ikut aksi pencurian mobil-mobil tentara Jepang. 

Pada tahun 1945, Ia menjadi prajurit TKR Batalyon X divisi III. 

Bertugas di asrama militer di Benteng Vrederburg, lalu di asrama militer di Kotabaru, Yogyakarta. 

Ikut dalam pertempuran di Ambarawa, Magelang, dan Mranggen.

Pada tahun 1946, melanjutkan sekolah di STM Jetis.

Kemudian menjadi prajurit Tentara Pelajar, pernah bertugas menjadi supir pendamping Panglima Perang Sri Sultan Hamengkubuwono IX memeriksa pasukan. 

Lulus STM Jetis pada tahun 1947, lalu saat Agresi Militer Belanda I, tergabung dalam TP Brigade XVII sebagai komandan TP Kompi Kedu. 

Kemudian, masuk SMU-B Santo Albertus, Malang dan pada 1950 sebagai perwakilan dari Pemuda Katolik menghadiri perayaan kemenangan RI di alun-alun kota Malang. 

Di sini Mangun mendengar pidato Mayor Isman yang kemudian sangat berpengaruh bagi masa depannya. 

Di tahun 1959 melanjutkan pendidikan di Teknik Arsitektur ITB, kemudian melanjutkan pendidikan arsitektur di Rheinisch Westfaelische Technische Hochschule, Aachen, Jerman, pada tahun 1960 dan lulus, kemudian kembali ke Indonesia pada tahun 1966.

Pada tahun 1992 mendapat The Aga Khan Award untuk arsitektur Kali Code, kemudian mendirikan laboratorium Dinamika Edukasi Dasar. 

Model pendidikan DED ini diterapkan di SD Kanisius Mangunan, di Kalasan, Sleman, Yogyakarta di tahun 1994. 

Pada tanggal 10 Februari 1999 Beliau wafat karena serangan jantung, setelah memberikan ceramah dalam seminar Meningkatkan Peran Buku dalam Upaya Membentuk Masyarakat Indonesia Baru di Hotel Le Meridien, Jakarta. 

Karya arsitekturnya antara lain, Pemukiman warga tepi Kali Code, Yogyakarta Kompleks Religi Sendangsono, Yogyakarta Gedung Keuskupan Agung Semarang Gedung Bentara Budaya, Jakarta Gereja Katolik Jetis, Yogyakarta Gereja Katolik Cilincing, Jakarta Markas Kowihan II Biara Trappist Gedono, Salatiga, Semarang Gereja Maria Assumpta, dan Klaten Gereja Maria Sapta Duka, Mendut.

...

Teman-teman terkasih dalam Kristus, diperkenankan mengutip / mengcopy / menyebarluaskan artikel diatas dengan mencantumkan:
"sumber: Melodi-Kasih-Tuhan.blogspot.com"


With love,

Mikael Oka

Referensi:

Diambil dari http://tatsubonkunipuri.blogspot.com



Antara Kita, Yesus “Dunia” dan Yesus Kristus


Dalam suatu acara Kebangkitan Rohani Katolik (KRK) di suatu lapangan, terdengar sorak sorai penuh semangat dari para pesertanya.

Peserta KRK :     Yesus, Yesus ! Kami mau Yesus sekarang ! Kami mencintai-Mu, Yesus ! Kami mau Mesias ! Yesus !

MC KRK                :              Baiklah saudara saudari terkasih, sebentar lagi Yesus kita akan datang ! Apakah kalian ingin lebih dari pemenang?

Peserta KRK :     Ya ! Kami butuh Mesias ! Kami ingin hidup sukses ! Kami mau Yesus sebagai solusi dalam kesesakan kami !

MC KRK:               Kalau begitu, sambutlah ini “Yesus” kita !

Kemudian naiklah seorang yang rupawan, kelihatannya seperti seseorang yang berwibawa dengan penampilan seperti seorang eksekutif, dikawal beberapa bodyguard ke atas panggung, diiringi sorak sorai peserta KRK.

Yesus “Dunia”    : Ehm..ehm..Jangan kalian khawatir akan hidupmu, burung saja dipelihara apalagi kalian ! Aku sudah menanggung segala penderitaan dan dosa kalian, jadi kalian tidak perlu lagi menderita demi namaku. Tidak ada orang tua yang memberikan batu kepada anaknya yang meminta roti, begitu pula kalian tidak akan mendapat susah di dunia kalau kalian percaya ! 

Sorak sorai membahana.

Yesus “Dunia”    : Yang aku inginkan bagi kalian sangat ringan, kalian cukup dibaptis, ke gereja, memberikan banyak persembahan tentunya. Kalian tidak perlu repot menyelidiki firmanku, cukup dengarkanlah dan belajar dari apa yang pastor atau pengkhotbah sampaikan, karena dari materi-materi mereka kalian akan mengetahui bahwa mereka adalah orang-orang benar, mereka wakil-wakilku, anak-anak pemenang.

Sorak sorai membahana kembali.

Tiba-tiba suasana menjadi hening seketika, tampak seorang lelaki yang lemah, badannya penuh luka dan juga wajahnya jauh dari kesan rupawan, naik ke atas panggung.        
     
Peserta KRK : Siapa kamu, cepat turun dari panggung mesias kami yang suci itu ! Jangan mengganggu acara ini ! Kau tampak sangat mengerikan !

Yesus “Dunia”    : Tahan, berikan kesempatan orang ini berbicara.

Lelaki yang baru saja naik ke panggung KRK: Akulah, Anak Manusia, yang kalian salibkan itu ! Aku adalah Yesus Kristus.

Yesus Kristus      : Setiap orang yang mau mengikuti Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikuti Aku . Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya. Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang diberikannya sebagai ganti nyawanya? (lihat Matius 16:24-26)

Lanjut Yesus Kristus: Kamu adalah garam dunia. Jikalau garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. (lihat Matius 5:13)

Sambil menoleh ke arah Yesus “Dunia”, Yesus Kristus berkata: Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia. (lihat Matius 16: 23).

...

Teman-teman terkasih berhati-hatilah dengan semakin lihainya iblis menjerumuskan kita dalam dosa. 

Iblis adalah juga ahli kitab, ia sangat memahami apa yang tertulis dalam Alkitab serta memutar balikkan maksud Firman yang sejati. 

Berhati-hatilah juga dengan para nabi palsu yang semakin banyak bermunculan dewasa ini.

Berdoalah senantiasa terutama Doa Tuhan (Doa Bapa Kami) dan Salam Malaikat yang terkandung dalam Rosario Suci; selalu sempatkan diri untuk membaca Firman-Nya dalam terang bimbingan Roh Kudus supaya kita dihindarkan dari tipu daya iblis dan hidup kita berkenan bagi kemuliaan Tuhan.

Tuhan memberkati kita selalu.
...

Teman-teman terkasih dalam Kristus, diperkenankan mengutip / mengcopy / menyebarluaskan artikel diatas dengan mencantumkan:
"sumber: Melodi-Kasih-Tuhan.blogspot.com"

With love,

Mikael Oka